Pola Kerja

fakta bahwa pemburu peramu punya waktu luang lebih banyak dari pekerja kantoran

Pola Kerja
I

Pernahkah kita merasa bahwa waktu 24 jam sehari rasanya tidak pernah cukup? Kita bangun pagi, menembus kemacetan atau berdesakan di KRL, lalu duduk di depan layar komputer selama delapan hingga sembilan jam. Belum lagi membalas pesan pekerjaan di grup WhatsApp saat akhir pekan. Kita sering diyakinkan bahwa ini adalah harga yang harus dibayar untuk menjadi manusia modern. Apalagi dengan segala teknologi, mesin, dan kecerdasan buatan yang kita miliki saat ini, secara logika, bukankah seharusnya beban kerja kita jauh lebih ringan?

Namun, realitasnya justru sebaliknya. Kita sedang hidup di era hustle culture, di mana kesibukan sering kali dijadikan medali kehormatan. Kalau tidak sibuk, rasanya kita tidak produktif. Kalau tidak lembur, rasanya kita tertinggal. Tapi, mari kita jeda sejenak dan berpikir kritis. Apakah ritme kerja yang menguras fisik dan mental ini memang sudah menjadi kodrat biologis kita sebagai manusia? Ataukah kita sedang berlari di atas treadmill yang kecepatannya tidak bisa kita kendalikan sendiri?

II

Untuk menjawab kegelisahan itu, teman-teman, mari kita melakukan perjalanan waktu. Coba bayangkan nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu. Kebanyakan dari kita mungkin membayangkan kehidupan mereka sangat mengenaskan. Kita diajari oleh buku-buku sekolah bahwa para pemburu-peramu (hunter-gatherers) hidup nomaden dengan penuh penderitaan. Tiap hari harus berlari dikejar harimau purba. Kelaparan, kedinginan, dan setiap detik dalam hidup mereka dihabiskan hanya untuk sekadar bertahan hidup.

Gambaran itu membuat kita merasa bersyukur hidup di masa sekarang. Kita merasa beruntung karena punya supermarket, kasur empuk, dan pekerjaan tetap dengan gaji bulanan. Tapi, apa jadinya jika saya katakan bahwa narasi tentang "nenek moyang yang menderita" itu sebenarnya kurang tepat? Bagaimana jika para ahli sejarah dan antropologi justru menemukan sebuah ironi yang akan membuat kita menatap layar laptop kita hari ini dengan tatapan nanar?

III

Mari kita bedah faktanya secara ilmiah. Pada tahun 1960-an, seorang antropolog bernama Richard Lee tinggal bersama suku Ju/'hoansi di Gurun Kalahari, Afrika. Suku ini masih mempraktikkan gaya hidup pemburu-peramu yang sama persis dengan nenek moyang kita. Richard Lee pergi ke sana dengan asumsi awal bahwa suku ini pasti bekerja sangat keras dari matahari terbit sampai terbenam hanya untuk mencari makan.

Namun, data lapangan yang ia kumpulkan menunjukkan hasil yang membuat dunia sains terkejut. Temuan ini memunculkan sebuah pertanyaan besar di kalangan ahli psikologi evolusioner dan sejarawan. Jika mereka tidak menghabiskan waktu seharian untuk bekerja, lalu apa yang mereka lakukan? Dan jika pola hidup mereka sangat berbeda, mengapa kita, manusia modern, justru terjebak dalam revolusi pertanian dan industri yang memaksa kita bekerja tiada henti? Kita seperti mengaktifkan sebuah jebakan yang kita buat sendiri. Bersiaplah, karena kebenaran dari data ini mungkin akan mengubah cara kita memandang rutinitas harian kita selamanya.

IV

Inilah faktanya: nenek moyang kita, para pemburu-peramu itu, rata-rata hanya "bekerja" mencari makan selama 15 hingga 20 jam dalam seminggu. Ya, teman-teman tidak salah baca. Sekitar tiga sampai empat jam sehari. Selebihnya? Mereka menghabiskan waktu luang untuk tidur siang, mengobrol, bermain dengan anak-anak, bercerita di sekitar api unggun, dan membuat kesenian. Antropolog Marshall Sahlins bahkan menyebut mereka sebagai The Original Affluent Society atau "Masyarakat Makmur yang Asli". Mereka merasa kaya bukan karena punya banyak harta, tapi karena mereka punya banyak waktu dan keinginan mereka sedikit.

Lalu malapetaka itu datang bernama Revolusi Pertanian. Ketika kita mulai menetap dan menanam gandum, kita memang mendapat kepastian pangan, tapi harganya sangat mahal. Kita harus membersihkan lahan, mencangkul, mengairi sawah, dan memanen dari pagi hingga malam. Kita mulai menimbun harta, menciptakan hierarki, dan akhirnya melahirkan konsep bos dan karyawan. Secara psikologis, otak dan tubuh kita hari ini masih sama persis dengan otak pemburu-peramu purba yang dirancang untuk bersantai setelah kebutuhan kalori hari itu terpenuhi. Kondisi burnout yang kita alami sekarang adalah hasil dari evolutionary mismatch (ketidakcocokan evolusioner). Kita memaksakan otak purba yang mencintai kebebasan dan waktu luang, ke dalam bilik kantor bersekat yang menuntut fokus delapan jam sehari.

V

Tentu saja, saya tidak menyarankan kita semua resign dari pekerjaan hari ini lalu pergi ke hutan terdekat untuk memburu rusa. Kita tidak bisa memutar balik arah jarum jam sejarah. Peradaban modern telah memberikan kita banyak hal luar biasa, seperti antibiotik, internet, hingga usia harapan hidup yang jauh lebih panjang. Namun, menyadari fakta evolusioner ini sangat penting untuk kesehatan mental kita bersama.

Pola kerja 9-to-5 bukanlah hukum alam semesta; itu hanyalah kesepakatan sosial yang diciptakan pasca Revolusi Industri. Jadi, saat teman-teman merasa kelelahan, stres, atau burnout, pahamilah bahwa itu bukan karena kita lemah atau kurang bersyukur. Itu karena secara biologis, kita memang tidak dirancang untuk bekerja seperti mesin. Mulai sekarang, mari kita berhenti memuja kesibukan yang merusak diri. Mari kita beri diri kita sendiri ruang bernapas tanpa rasa bersalah. Karena ternyata, bersantai dan menikmati waktu luang bersama orang-orang terkasih adalah hal yang paling manusiawi dari diri kita.